Kisah Imam Syafi'i dalam Menuntut Ilmu

11986315_169899283343792_781970010567855


Imam Syafi'i ketika menuntut ilmu di kota Mekkah, beliau di seru oleh gurunya, "wahai Imam Syafi'i pergilah engkau ke Madinah untuk berguru lagi, karena sesungguhnya ilmuku sudah habis ludes semuanya sudah kuajarkan padamu".

Waaah,,, hebat bener yah, pernah ketemu yg kaya begini gak? Guru kehabisan ilmu untuk di-ajarkan kepada muridnya, rasanya langka sekali yach... Imam Syafi'i menuruti gurunya itu & iya berpamitan kepada ibunya.

Memang Imam Syafi'i adalah seorang yg sangat patuh kepada ibunya, jauuuh kalau dibanding dgn kita.

Berkatalah Ibundanya Imam Syafi'i "Nak, pergilah engkau menuntut ilmu dijalan Alloh, kita ketemunya nanti di akhirat saja Nak".

Zaman dulu tidak sama seperti zaman sekarang. Untuk mencari ilmu bisa memakan waktu sangat panjang & lamaaa, bisa berpuluh-puluh tahun. Banyak yg menua di dalam perjalanannya.

Maka wajarlah ibundanya Imam Syafi'i berkata demikian. Maka Imam Syafi'i pun berangkat ke Madinah mencari guru untuk belajar. Saat itu usianya masih sangat muda.

Kalau ditempat kita usia segitu masih di suka & gemar untuk hura-hura, main gitar, berjoget-joget,

kebut-kebutan dijalan, nongkrong sana-sini, ngerumpi sana-sini, dllnya.
Di Madinah beliau berguru kepada Imam Malik.

Tak butuh waktu lama bagi Imam Syafi'i untuk menyerap ilmu dari Imam Malik sehingga semua orang terkagum-kagum dibuatnya, termasuk sang guru yg pada saat itu merupakan ulama tertinggi di Madinah, tampuknya kutup hijaz adalah Imam Malik.
Imam Syafi'i menjadi murid kesayangan Imam Malik.

Selesai belajar di Madinah Imam Syafi'i masih terus melanjutkan pencarian ilmunya ke negri Irak.

Di Irak saat itu juga merupakan salah satu kutub ilmu islam selain Madinah, karena disitu ada Imam Abu Hanifah & murid-muridnya.

Jadi pada masa itu ada 2 kutub ilmu Islam, yaitu kutub Hijaz di Madinah yg mana Imam Malik sebagai Mahagurunya & ada kutub Baghdad dimana Imam Abu Hanifah sebagai Mahagurunya.

Berangkatlah Imam Syafi'i mengembara ke negri Iraq & Imam Syafi'i menimba ilmu disana kepada murid2nya Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi.

Meski sudah banyak menyerap ilmu di Irak, Imam Syafi'i belum ingin pulang, karena belum ada panggilan dari ibundanya.

Di Irak Imam Syafi'i berkembang menjadi murid yg terkenal sangat pintar & sangat tercerdas, sehingga dalam waktu singkat ia sudah diminta untuk mengajar.

Satu murid, dua murid, tiga murid sampai ribuan murid berbondong-bondong datang untuk berguru padanya. Hingga ia pun menjadi ulama besar yg terkenal keseluruh penjuru Irak hingga Hijaz.

Ketika musim haji datang, Ibunya Imam Syafi'i selalu menunaikan haji.

Suatu ketika di musim haji di Masjidil Haram ada sebuah pengajian besar yg mana pengajiannya di pimpin oleh seorang ulama besar dari Irak.

Ulama Besar dari irak ini dalam ceramahnya sebentar-sebentar berkata
"Qola Muhammad bin Idris Asy Syafi'i....

Qola Muhammad bin Idris Asy Syafi'i" (berkata Muhammad bin Idris Asy Syafi'i).

Ibundanya Imam Syafi'i yg juga turut mendengarkan pengajian itu bertanya-tanya, Muhammad bin Idris Asy Syafi'i yg disebut guru besar itu Muhammad bin Idris Asy Syafi'i yg mana? karena Muhammad adalah anaknya & Idris adalah nama suaminya.

Maka bertanyalah Ibunya kepada Ulama besar tadi, "wahai Syaikh, maaf saya ingin bertanya, siapakah itu Muhammad bin Idris Asy Syafi'i?"

Dengan bangganya Sang Kyai besar itu berkata "dia adalah guruku, seorang ulama besar di Irak yg berasal dari kota Mekkah ini".

Mendengar jawaban itu Ibunya terkejut. Setahu dia tak ada nama Muhammad bin Idris Asy Syafi'i yg berasal dari Mekkah ini selain dari anaknya.

Maka ibunya Imam Syafi'i berkata "Ketahuilah wahai Syaikh, sesungguhnya Muhammad bin Idris Asy Syafi'i adalah anakku".

Mendengar jawaban itu Sang Kyai besar itu pun terkejut. "Benarkah itu wahai ibu? ibunya Imam Syafi'i masih ada?"

"Benar wahai syaikh, Muhammad bin Idris Asy Syafi'i adalah anakku". Maka dia pun hormat kepada Ibu Imam Syafi'i tersebut.

Setelah bercerita banyak Syaikh dari irak tadi pun bertanya, "Lalu apa pesanmu untuk Imam Syafi'i wahai ibu?" "Katakanlah pada anakku, jika ia ingin pulang ke Mekkah sekarang dia boleh pulang", Setelah sampai ke negri Irak maka pesan itu pun disampaikan kepada Imam Syafi'i.

"Wahai Imam, Ibumu berpesan jika Imam ingin pulang ke Mekkah sekarang Imam boleh pulang", Maka Imam Syafi'i pun bergegas ingin pulang.

Sudah sangat rindu kepada ibunda tercintanya. Namun disisi lain masyarakat Irak begitu berat melepaskan Sang Imam.
Namun dengan berat hati & perasaan penuh haru mereka pun rela melepaskan Imam Syafi'i untuk pulang.

Karena mereka semua cinta kepada Imam Syafi'i & Imam Syafi'i merupakan Ulama Besar, maka saat Imam Syafi'i mau pulang mereka banyak sekali memberikan bekal kepada Imam Syafi'i, diantaranya banyak yg memberi onta hingga Imam Syafi'i mendapat ratusan onta yg mana masing-masing onta terdapat isi bekal & kekayaan di punggungnya. Imam Syafi'i terkejut melihat begitu banyaknya bekal yg diberikan kepadanya.

Hampir semua orang irak memberi bekal.Imam Syafi'i pun pulang menuju Kota Mekkah, di kawal oleh beberapa orang santrinya berikut ratusan onta.

Sesampainya di pinggiran kota Mekkah Imam Syafi'i menyuruh salah seorang santrinya untuk bertemu ibunya & mengabarkan bahwa Imam Syafi'i sudah hampir sampai di kota Mekkah.

Santrinya pun mendatangi rumah Ibunda Imam Syafi'i & mengetuk pintu.

Setelah di buka ibunya bertanya, "Kamu siapa?" "Saya muridnya Imam Syafi'i" jawab santri itu "Ada apa?" tanya ibunya, "Imam Syafi'i sedang dalam perjalanan pulang ke sini, & sekarang sudah berada di pinggiran kota Mekkah" jawab santri lagi.

"Apa saja yg di bawa Syafi'i?" tanya ibunya lagi. Santri Imam Syafi'i dengan bangganya menjawab "Imam Syafi'i datang dengan membawa ratusan unta & harta", berharap Ibunya Imam Syafi'i menjadi senang mendengarnya.

Bukannya senang, Ibunya Imam Syafi'i malah marah-marah. "Apa? Syafi'i membawa ratusan onta?, aku menyuruh berkelana bukan untuk mencari dunia !!!!, katakan pada Syafi'i bahwa dia tidak boleh pulang kerumah !!!".

Tegas ibunya sambil menutup pintu dengan marah. Santrinya terkejut.
SUBHAANALLOOH...

Ada Gak yah, seorang ibu di jaman sekarang yg kayak gini ini?? Jaman sekarang mungkin justru kena marah kalau pulang dari merantau gak bawa harta benda...hehehe...".

"Masa sih sudah lama merantau pas pulang masih pake kaos yg itu itu juga?,, Sepatunya masih yg kemaren-maren juga? hehehe...

Tapi Ibunya Imam Syafi'i justru marah mendengar anaknya pulang membawa banyak onta & harta benda. Ibunya hanya ingin Imam Syafi'i mencari ilmu bukannya harta.

SUBHAANALLOOH...,
Benar-benar seorang ibu yg sholehah. Maka dengan perasaan yg serba salah santri tadi pun menyampaikan pesan ibunya kepada Imam Syafi'i.

Mendengar itu Imam Syafi'i pun gemeteran ketakutan. Imam Syafi'i pun memerintahkan kepada santrinya untuk mengumpulkan warga-warga miskin di kota Mekkah.

Lalu semua onta berikut hartanya di berikan kepada warga kota Mekkah hingga tak tersisa. Yg tersisa hanya kitab-kitab saja.

Maka santri tadi pun disuruh kembali menemui ibunya. Sesampainya di rumah ibunya, santri tadi pun menceritakan kepada Ibunya Imam Syafi'i bahwa semua onta & hartanya sudah di bagikan kepada warga kota Mekkah yg tersisa hanya kitab & ilmunya saja. Maka Imam Syafi'i pun di perbolehkan pulang oleh ibundanya.

SUBHAANALLOOH....
Semoga bermanfaat & berkah dunia....Akhirat.

Semoga bermanfaat & berkah dunia akhirat & semoga rahmat Alloh Swt turun kepada kita semua, karena kita telah membaca cerita kisah & menceritakan kisah orang-orang yg sangat sholeh... Aamiin → AL-FAATIHAH..

Semoga kita selalu mendapatkan ilmu, hidayah dan perlindungan Allah Subhana wata’ala dimanapun kita berada... Aamiin ya Rabbal’alaamiin....

Semoga membawa manfaat...
Sebagai motifasi ......

sumber : Fb profil : Subehan Muhammad

Related Posts:

1 Response to "Kisah Imam Syafi'i dalam Menuntut Ilmu"